Selasa, 15 Mei 2012
Jumat, 04 Mei 2012
A STORY ABOUT A PATIENCE OF AN UGLY BOY
SI BURUK RUPA
Dhanang,
seorang anak yang sederhana. Perawakannya seperti perawakan anak-anak lain
seusianya, tidak tinggi namun juga tidak pendek, berambut ikal, dan juga
berkulit sawo matang. Tapi diluar itu semuanya, ia anak yang pintar dan cerdas.
Semua mengakuinya, kalau dia adalah anak yang cerdas dan memiliki kecerdasan
berfikir diatas rata-rata anak-anak seusianya. Namun dia tidak mengerti jikalau
dia adalah anak yang sangat cerdas dan sangat pintar. Dia hanya berfikir, kalau
dia hanya seorang yang biasa saja yang mempunyai kecerdasan setara dengan
teman-temannya.
Di
sekolah, dia bukanlah anak yang terkenal. Hanya segelintir anak saja yang
mengenal, bahkan tidak banyak anak yang tahu siapakah Dhanang. Dhanang terkesan
tertutup dan hanya bisa terbuka pada orang-orang yang sudah dikenalnya dan
mengerti tentang Dhanang, salah satunya Raka, teman sekaligus sahabat terdekat
Dhanang. Bersama Raka, Dhanang telah menjadi pasangan yang tak pernah
terpisahkan, karena dimana ada Raka, pasti disitu ada Dhanang, begitu pun
sebaliknya. Mereka berdua bukanlah anak yang spesial di mata teman temannya,
kecuali Raka yang mempunyai wajah tampan dan menawan, dan banyak anak anak
perempuan yang telah jatuh cinta kepada Raka. Sebaliknya, Dhanang adalah anak
yang terkesan mempunyai rupa yang tidak sebagus dan setampan Raka. Dhanang pun
telah menyadari kekurangannya.
Pada
suatu pagi, Dhanang mendengar berita dari gurunya, bahwa ia diikutkan
sekolahnya untuk bergabung dengan tim olimpiade sekolahnya. Ia pun menerima
berita tersebut dengan suka cita. Lalu, siangnya ia pergi ke ruang bahasa
Inggris untuk mengikuti pembinaan pertamanya. Pada saat pertama, ia tampak
sebagai orang asing bagi anak anak perempuan yang hadir di ruang tersebut.
“Siapa sih anak item itu?” bisik salah satu anak perempuan. Dhanang yang
mendengar bisikan tersebut hanya bisa bersabar dan mencoba tabah menerima
olokan yang ia dapatkan. Lalu, pembinaan pun dimulai dengan hadirnya Pak Kasno
sebagai pembicaranya.
DI
tengah tengah pembinaan tersebut, ia bermain pen spinning untuk mengusir kejenuhannya. Namun karena
keteledorannya, ia menjatuhkan bolpennya. Saat ia mengambil bolpennya, ia
melihat sesosok perempuan yang dapat membuat jantungnya berdetak lebih cepat
dari sebelumnya. Ia merasakan sesuatu hal yang aneh yang ia rasakan, yang belum
pernah ia rasakan sebelumnya. Ya, ia jatuh cinta kepada seorang anak perempuan
di tempat tersebut. Karina ialah namanya. Ia mempunyai paras yang menawan dan cantik,
sifat yang baik dan lembut, juga ia salah satu murid terpandai di sekolahnya,
tentunya setelah Dhanang. Namun Dhanang cepat-cepat sadar dari lamunannya,
kalau untuk mendapatkan cinta Karina adalah suatu hal yang tak mungkin. Yang
pertama, tak ada satupun anak yang tahu mengenai ataupun mempedulikan Dhanang.
Dan yang kedua, ia sadar, bahwa dengan rupanya yang terkesan buruk, ia tak akan
bisa mendapatkan hati dari Karina, cinta pertamanya.
Selesai
dari pembinaan tersebut, Dhanang langsung berlari mendatangi Raka. Dhanang
menceritakan semuanya yg ia rasakan kepada Raka, termasuk sesuatu yang
mengganjal hatinya, yang bisa mengakhiri lamunan Dhanang saat pertama kali
menatap wajah Karina. Raka hanya tersenyum kecil. “Itu lazim terjadi, Bro.
Impossible is nothing! Aku yakin kamu bisa kok dapetin cintanya Karina.”
kata Raka menyemangati temannya tersebut, yang sedang merasakan cinta
pertamanya. “Apa yang mesti aku lakuin, Rak?” tanya Dhanang. “Deketin, jadi best
friend-nya, lalu tembak, selesai.” kata Raka dengan santai. “Tapi apa dia
mau nerima aku yang item jelek gini?” tanya Dhanang dengan nada pesimis.
“Sudahlah, kamu coba dulu aja, kan kita ga tahu hasilnya kalau belum dicoba.”
Kata Raka kepada temannya yang pesimis itu. Setelah itu, Dhanang menarik sebuah
kesimpulan, kalau dia harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan cinta Karina,
dan bukan hanya duduk terdiam dan mengharap mukjizat besar akan datang
kepadanya, sungguh kecil kemungkinannya.
Malamnya,
ia terus berfikir. Berfikir dan berfikir, ia tak pernah berhenti lakukan itu.
Tak lain adalah Karina, seorang perempuan yang mampu membuatnya jatuh hati.
Semalaman ia tak bisa tidur karena wajah cantik dari Karina selalu hadir dan
membuat Dhanang tak bisa melupakan Karina. Jam menunjukkan pukul 00.00, saatnya
tidur.
Besoknya,
ia dengan semangat pergi ke sekolah. Ini adalah sebuah perubahan besar yang
terjadi pada Dhanang, karena sebelumnya ia tak pernah bersemangat pergi ke
sekolah. Di sekolah, dia mencoba berkata pada Raka, apa yang ia rasakan pada
tadi malam. Dan Raka hanya tersenyum mendengar cerita kawannya tersebut. Dia
menyarankan, untuk mendekati teman karib Karina, untuk mendapatkan nomor
telepon ataupun pin BBM Karina jika Karina mempunyai Blackberry.
Di
malam kedua setelah Dhanang merasakan cinta pertamanya, Dhanang mencoba
melakukan apa yg Raka sarankan. Mencoba menghubungi Rara, teman karib Karina.
Ia mendapatkan pin Blackberry Rara dari Raka, karena Raka dan Rara masih satu saudara, dan Rara adalah saudara
kembar dari Raka. Dengan semangat dia mulai mengirimkan chat pertamanya,
yang hanya berisikan “hai”. Setelah memperkenalkan diri kepada Rara, Rara pun
menanyakan ada hal kepentingan apa hingga dia mengontak Rara. Dhanang pun
bercerita tentang apa yang ia rasakan selama ini. “Oh begitu, kamu serius jatuh
cinta sama Karina, Nang?” tanya Rara. “Iyalah, kalau aku nggak serius kenapa
aku sampe kontak kamu? Aku hanya ingin menanyakan nomor telepon atau pin BBM
nya, dan juga hal-hal internalnya, seperti hobi atau kesukaannya.” Jawab
Dhanang dengan tegas. Lalu Rara memberikan pin BBM dari Karina, dan memberikan
kriteria lelaki idaman Karina. Namun, ia terhenyak saat mendengarkan kriteria
lelaki idaman Karina menurut Rara, tepatnya pada salah satu kriteria, berparas menarik.
Dhanang pun mulai berfikiran negatif. “Mungkinkah rupa buruk sepertiku ini
dapat meluluhkan hati Karina?” tanya Dhanang kepada Rara. “Itu masih
pemikiranku, mungkin saja pemikiran Karina berbeda dari pemikiranku. Berdoalah
saja dan jangan menyerah ya Nang!” Jawab Rara menyemangati Dhanang. Dengan
perasaan tak menentu, Dhanang mencoba untuk meng-invite pin BBM Karina,
dan tidak lama kemudian telah ter-confirm oleh Karina. Dhanang pun
mencoba untuk mengawali percakapannya dengan Karina dengan pembukaan seperti
biasa, dengan kata “hai”. Tak sampai 10 menit kemudian, Karina pun menjawab
sapaan Dhanang, dengan “hai juga”. Namun anak manis ini tidak mengerti siapakah
gerangan orang yang mengajak dia chat pada hari itu. “Ini siapa ya?”
tanya Karina. “Oh iya, aku Dhanang, salam kenal, kita dari satu sekolahan kok.”
Jawab Dhanang sambil berkeringat dingin. “Oh Dhanang yang anak olimpiade itu
kan? Oalah salam kenal juga, Nang. Aku Karina.” Jawab Karina. Betapa senang
hati Dhanang mendapat respon sebegitu baiknya dari Karina. Semenjak itu, ia
selalu mengajak chat Karina, untuk sekedar bercakap-cakap ringan atau
sampai curhat. Ya, setidaknya Dhanang sudah tidak menjadi seorang stranger
di kehidupan Karina. Karena dari cerita Rara, Karina sangat senang mempunyai teman
sebaik dan sepeduli Dhanang. Setidaknya di langkah awal ini Dhanang telah
berhasil menjadi teman lelaki terbaik Karina yang selalu ada di sisi Karina
dalam suka maupun duka.
4
bulan pun berlalu, kini telah memasuki musim penghujan. Tak ada perubahan yang
signifikan dari hubungan Dhanang dengan wanita pujaannya, Karina. Ia masih
harus berfikir 7 hari 7 malam untuk menguatkan tekadnya untuk mengungkapkan
perasaan sebenarnya kepada Karina. Namun, sebagai lelaki yang tak mempunyai
paras yang tampan, Dhanang pun dihinggapi oleh beribu rasa khawatir, jikalau ia
akan ditolak mentah mentah oleh Karina, dan tak bisa lagi menjadi teman wanita
pujaannya tersebut, dan kembali menjadi seorang stranger bagi Karina. Ia pun meminta saran kepada Raka,
sahabat karibnya yang paling setia. Ia coba mengeluarkan apa yang ia rasakan
saat ini. Sebagai teman yang baik, Raka pun menjawab pertanyaan temannya yang
sedang limbung tak karuan itu. “Bro, kalau gak kamu utarain perasaanmu
yang sebenernya, gimana dia bisa tau? Bagaimanapun dia tetap orang biasa, bukan
Uya Kuya yang bisa hipnotis orang trus baca pikiran orang. Sekarang atau tidak
selamanya, Bro.” Jawab raka. “Tapi kalau aku ditolak?” tanya Dhanang
kepada Raka. “Ya itu kan namanya belum jodoh, Nang. Tenang aja, jodoh uda ada
yang atur kok, jadi kalo kamu brusaha, dan berdo’a juga tentunya, kamu pasti
bisa kok dapetin Karina.” Jawab Raka. “Tapi kan tampangku kayak begini.” Kata
Dhanang dengan raut muka sedih. “Perempuan gak liat dari luar aja, itu mah cuma
nomer ke berapa gitu. Yang paling penting dalam diri kamu, Nang. Cinta dan
kasih sayang yang tulus adalah segalanya. Kamu baik kok anaknya, jujur deh. Aku
yakin kamu bisa dapetin hatinya Karina!” kata Raka dengan menyemangati Dhanang.
“Okelah kalau begitu, akan ku coba, Rak.” Jawab Dhanang.
Malamnya,
ia pergi menuju Blackberry-nya, dan langsung mengontak Rara, dan
memintakan tolong untuk menanyakan apakah Karina mempunyai rasa kepada Dhanang.
Dan Rara pun dengan senang hati melakukannya. “Semoga besok jawabannya dapat
membuatku senang, amin.” Do’a Dhanang.
Malam
besoknya, Rara langsung mengakatan sesuatu hal yang dapat membuat hati Dhanang
berbunga bunga, yaitu jawaban dari Karina. “Bagaimana, Ra jawabannya?” tanya
Dhanang dengan penasaran. “Dia suka kamu 30%!!” Jawab Rara dengan semangat.
“Serius kamu Ra?” Tanya Dhanang dengan tidak percaya. “Serius Nang, dia ngomong
sendiri sambil tersipu malu gitu ngomongnya ke aku.” Jawab Rara. “Berarti aku
masih mungkin dong dapetin hatinya Karina?” Tanya Dhanang. “Masih lah, kan kamu
uda punya modal.” Jawab Rara. Semenjak itu, suasana hati Dhanang menjadi
berbunga-bunga dan menjadi anak yang ceria juga periang. Setiap harinya selalu
diisi dengan ke-optimisan yang membumbung tinggi.
Di
hari yang telah ia tentukan, Dhanang pun memutuskan untuk mengutarakan
prasaannya kepada Karina. Setelah mengambil blackberry-nya, ia langsung
menelpon Karina, dan mengutarakan prasaannya kepada Karina. Betapa kagetnya
Karina, orang yang sebelumnya hanya stranger di hidupnya ternyata
menyukai dirinya dan menembak Karina. Dengan mantap Karina menjawab, “Ya nang,
aku mau kok.” Betapa senang hati Dhanang cinta pertamanya langsung diterima,
dan tidak menjadi cinta bertepuk sebelah tangan. Semenjak itu, mereka berdua
menjadi pasangan yang tak terpisahkan yang saling mencintai satu sama lain apa
adanya.
Namun
pada tahun ke-3 hubungannya dengan Karina, Dhanang jatuh sakit. Karena sangking
parahnya, ia pun dibawa untuk menjalani rawat inap di Rumah Sakit. Setelah
didiagnosa, Dhanang divonis dokter menderita penyakit Kanker Otak, dan hidupnya
pun tak lama lagi akan habis. Sedih, adalah perasaan yang terpancar dari
mukanya saat pertama kali mendengar vonis dokter tersebut. Tapi, ia berusaha
tegar dengan takdir yang ia dapatkan. Ia berusaha tegar jalani sisa-sisa
hidupnya. Dan betapa beruntungnya Dhanang, di sampingnya masih ada Karina,
teman perempuan yang paling ia cinta, yang telah bersamanya 3 tahun terakhir
ini. Karina selalu ada disaat Dhanang membutuhkannya, selalu menemaninya,
menyuapinya, dan juga menjaganya. Karina sangat mencintai Dhanang, karena
baginya, tiada lelaki lain yang dapat sebaik Dhanang. Bagi Karina, Dhanang-lah
lelaki yang bisa membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Ia dengan
semangat menjaga, merawat, dan juga menyemangati Dhanang karena yang Karina
ingin hanyalah 1, yaitu mereka dapat hidup bersama. Di lain sisi, melihat
ketulusan cinta Karina, Dhanang pun tergerak untuk berusaha sembuh dari
penyakitnya tersebut.
Tapi,
Allah berkehendak lain. Makin lama penyakit yang diderita Dhanang pun semakin
parah, dan mengganas. Satu persatu rambutnya mulai rontok, dan badannya pun
mengurus, hingga hanya tertinggal tulang dan kulit saja. Walau begitu, Karina
tak pernah pergi meninggalkan Dhanang. Orang tua Dhanang pun merasa iba dengan
keadaan anak mereka, begitu pula dengan Karina. Karena, bagaimana tidak? Dua
insan manusia yang saling mencintai, dan baru saja menjalin cinta harus diberi
cobaan seberat ini. Namun Karina tidak henti hentinya berdo’a kepada Allah agar
dapat memberi kesembuhan bagi Dhanang, lelaki yang paling ia sayangi dan cintai.
Di
pagi yang gelap, awan hitam berkumpul diatas langit kota, keadaan Dhanang makin
mengkhawatirkan. Keluarga, kerabat, teman-teman karibnya, seperti Raka, Rara,
dan tentu saja kekasihnya Karina berada di dekat Dhanang. Karina terus
memberikan dorongan kepada Dhanang, untuk tetap kuat dan terus jalani hidupnya.
Dan seperti yang diduga, Dhanang jatuh koma. Matanya terpejam dan tak bisa
lakukan apapun. Bukan sedih mainnya Karina. Ia menangis terisak-isak di luar
ruang ICU, dimana Dhanang dirawat. Setelah beberapa hari kemudian, orang tuanya
dan Karina pun diberi izin untuk masuk menemui Dhanang yang sedang dalam
keadaan koma. Dengan penuh harapan, Karina berdoa sembari beberapa kali
menitihkan air mata saat memegang tangan Dhanang. Tanpa diduga, Dhanang selamat
dari jurang kritisnya tersebut. Jari jemari Dhanang yang kecil itu mulai
bergerak kecil, lalu ia berusaha membuka matanya dan mendapati kekasihnya yang
paling ia sayangi sedang berlinang air mata. Karina senang bukan main saat
melihat Dhanang bangun kembali. Ia merasa mendapat mukjizat terbesarnya. Karina
langsung menyium kening kekasihnya tersebut. Dan besoknya, Dhanang mulai
membaik. Dia mempunyai keinginan untuk pergi ke suatu tempat yang indah, dimana
disana dia bisa berduaan bersama Karina. Tanpa banyak kata, orang tua pun
meminta ijin kepada dokter untuk membawa Dhanang keluar sebentar untuk memenuhi
keinginan Dhanang ini, yang mungkin menjadi keiniginan terakhirnya. Bersama
Karina, ia duduk di kursi belakang mobil sedan ayah Dhanang. Pantai, ialah
destinasi dari perjalanan mobil sedan tersebut. Di pantai, ia bermain main,
mungkin untuk terakhir kalinya bersama Karina, juga disana ada Raka dan Rara
yang sudah menunggu di sana. Mereka semua bermain dengan gembira, mereka
meluapkan kegembiraan, semua kegembiraan yang mungkin mereka takkan dapatkan
kelak. Karina pun memberikan kado terspesial bagi Dhanang, yaitu sebuah pelukan
hangat dan kecupan manis di kening Dhanang, yang mungkin takkan Dhanang
dapatkan di surga kelak saat ia telah dipanggil oleh Allah. Setelah semua itu,
mereka kembali ke rumah sakit untuk membawa Dhanang kembali ke rumah sakit.
Seminggu
kemudian, dibawah langit kelabu, lebih gelap dari saat Dhanang jatuh koma, disertai
dengan derai hujan dan kilat-kilat yang bergantian menyambar satu sama lain,
Dhanang kembali berjuang untuk lepas dari jurang kritisnya itu. Namun, Allah
berkehendak lain, Dhanang dipanggil untuk menghadap sang pencipta di surga-Nya.
Karina yang ada di tempat itu yang menyaksikkan detik-detik kembalinya Dhanang
pun tak percaya. Seorang lelaki terhebat dan terbaik dalam hidupnya, yang baru
saja hadir dalam hidupnya, kini telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Tangisan Karina pun memecah keheningan rumah sakit. Derai air mata tak
henti-hentinya keluar dari kelopak mata perempuan cantik tersebut. Ia masih tak
percaya seorang lelaki yang telah merubah hidupnya kini telah pergi, menuju
peraduan selanjutnya di alam akhirat. Kini, tiada anak “buruk rupa” itu. Kini
tiada anak jenius itu. Semua menangisi kepergiannya, termasuk Karina yang
sangat sedih dengan kepergian kekasihnya yang sangat ia sayangi.
Beberapa
hari setelah meninggalnya Dhanang, Karina masih dirundung kesedihan yang
mendalam. Walau telah banyak lelaki yang telah mendekatinya, ia tetap tidak
bergeming sedikitpun kepada semua lelaki tersebut. Tanpa disangka, orang tua
Dhanang memberikan sebuah kardus, titipan dari Dhanang semasa hidupnya. Dhanang
menitipkan semua barangnya kepada orang tuanya untuk diberikan kepada
orang-orang yang membutuhkan, namun ada kardus khusus yang telah Dhanang
siapkan untuk diberikan kepada kekasihnya, Karina. Didalamnya banyak sekali
barang barang yang Dhanang sukai dan Dhanang sayangi, seperti laptopnya,
foto-foto Karina dan Dhanang berduaan, hingga buku harian Dhanang. Didalamnya
terselip sebuah catatan kecil yang khusus ditujukan kepada Karina, wanita yang
paling ia sayangi.
“Sayangku,
3 tahun sudah kita lewati bersama. Suka maupun duka, kita pernah lalui semua
itu. Tapi apakah kamu tahu? Makin hari kamu membuat diri ini makin sayang
padamu. Terima kasih banyak engkau telah sudi menerima cinta dan kasih sayangku
yang tulus dan mungkin tak seberapa berharga bagimu. Karena ku tahu, aku takkan
bisa berikan apapun kepadamu, karena wajah tampan pun aku tak mempunyai itu.
Aku pun juga bukan orang kaya, seperti mereka. Namun di luar semua itu, aku
ingin kau tahu, jikalau aku sangatlah menyayangi dan mencintai dirimu. Terima
kasih telah menjadi bidadari di kehidupanku yang sempit dan pendek ini. Maafkan
aku, aku harus pergi mendahului dirimu. Aku yakin diluar masih banyak lelaki
yang lebih pantas dan lebih baik untuk menjadi pendamping hidupmu. Ku harap,
sampai kapan pun engkau takkan lupakan diriku. Ku berikan barang-barang yang
bagiku sangat berharga kepadamu, untuk mengingatkanmu padaku. Meski aku jauh di
sana, aku takkan pernah lupakan kamu, Kar. Karena mungkin dari sana, aku akan
tetap bisa melihat dirimu di bawah sini, walau kau takkan bisa melihatku di
atas sana. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu untuk pertemukan ku dengannya di
surga-Mu. Sekali lagi kuucapkan padamu Kar, terima kasih atas semua yang telah
engkau berikan kepadaku dan aku mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau aku
memang memiliki dosa yang terlampau besar adanya, dan kuharap engkau sudi tuk
memaafkannya"
Sekian, Dhanang”
Secara
tak sadar, air mata pun mengairi kelopak matanya dan pipinya. Sesaat setelah membaca
surat kecil tersebut. Surat kecil yang bermakna besar bagi Karina. Sebuah bukti
cinta tulus dan putih dari seorang Dhanang, anak buruk rupa yang memiliki
cerita mirip dongeng “Beauty and The Beast”. Walau banyak terpaan cobaan
yang ia hadapi, ia tetap tegar. Ia percaya, semua pasti akan baik baik saja
pada akhirnya. Jika tidak, itu bukanlah akhir dari sebuah cerita, dan IMPOSSIBLE
IS NOTHING.
Langganan:
Postingan (Atom)