Jumat, 04 Mei 2012

A STORY ABOUT A PATIENCE OF AN UGLY BOY


SI BURUK RUPA

Dhanang, seorang anak yang sederhana. Perawakannya seperti perawakan anak-anak lain seusianya, tidak tinggi namun juga tidak pendek, berambut ikal, dan juga berkulit sawo matang. Tapi diluar itu semuanya, ia anak yang pintar dan cerdas. Semua mengakuinya, kalau dia adalah anak yang cerdas dan memiliki kecerdasan berfikir diatas rata-rata anak-anak seusianya. Namun dia tidak mengerti jikalau dia adalah anak yang sangat cerdas dan sangat pintar. Dia hanya berfikir, kalau dia hanya seorang yang biasa saja yang mempunyai kecerdasan setara dengan teman-temannya.
Di sekolah, dia bukanlah anak yang terkenal. Hanya segelintir anak saja yang mengenal, bahkan tidak banyak anak yang tahu siapakah Dhanang. Dhanang terkesan tertutup dan hanya bisa terbuka pada orang-orang yang sudah dikenalnya dan mengerti tentang Dhanang, salah satunya Raka, teman sekaligus sahabat terdekat Dhanang. Bersama Raka, Dhanang telah menjadi pasangan yang tak pernah terpisahkan, karena dimana ada Raka, pasti disitu ada Dhanang, begitu pun sebaliknya. Mereka berdua bukanlah anak yang spesial di mata teman temannya, kecuali Raka yang mempunyai wajah tampan dan menawan, dan banyak anak anak perempuan yang telah jatuh cinta kepada Raka. Sebaliknya, Dhanang adalah anak yang terkesan mempunyai rupa yang tidak sebagus dan setampan Raka. Dhanang pun telah menyadari kekurangannya.
Pada suatu pagi, Dhanang mendengar berita dari gurunya, bahwa ia diikutkan sekolahnya untuk bergabung dengan tim olimpiade sekolahnya. Ia pun menerima berita tersebut dengan suka cita. Lalu, siangnya ia pergi ke ruang bahasa Inggris untuk mengikuti pembinaan pertamanya. Pada saat pertama, ia tampak sebagai orang asing bagi anak anak perempuan yang hadir di ruang tersebut. “Siapa sih anak item itu?” bisik salah satu anak perempuan. Dhanang yang mendengar bisikan tersebut hanya bisa bersabar dan mencoba tabah menerima olokan yang ia dapatkan. Lalu, pembinaan pun dimulai dengan hadirnya Pak Kasno sebagai pembicaranya.
DI tengah tengah pembinaan tersebut, ia bermain pen spinning  untuk mengusir kejenuhannya. Namun karena keteledorannya, ia menjatuhkan bolpennya. Saat ia mengambil bolpennya, ia melihat sesosok perempuan yang dapat membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Ia merasakan sesuatu hal yang aneh yang ia rasakan, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ya, ia jatuh cinta kepada seorang anak perempuan di tempat tersebut. Karina ialah namanya. Ia mempunyai paras yang menawan dan cantik, sifat yang baik dan lembut, juga ia salah satu murid terpandai di sekolahnya, tentunya setelah Dhanang. Namun Dhanang cepat-cepat sadar dari lamunannya, kalau untuk mendapatkan cinta Karina adalah suatu hal yang tak mungkin. Yang pertama, tak ada satupun anak yang tahu mengenai ataupun mempedulikan Dhanang. Dan yang kedua, ia sadar, bahwa dengan rupanya yang terkesan buruk, ia tak akan bisa mendapatkan hati dari Karina, cinta pertamanya.
Selesai dari pembinaan tersebut, Dhanang langsung berlari mendatangi Raka. Dhanang menceritakan semuanya yg ia rasakan kepada Raka, termasuk sesuatu yang mengganjal hatinya, yang bisa mengakhiri lamunan Dhanang saat pertama kali menatap wajah Karina. Raka hanya tersenyum kecil. “Itu lazim terjadi, Bro. Impossible is nothing! Aku yakin kamu bisa kok dapetin cintanya Karina.” kata Raka menyemangati temannya tersebut, yang sedang merasakan cinta pertamanya. “Apa yang mesti aku lakuin, Rak?” tanya Dhanang. “Deketin, jadi best friend-nya, lalu tembak, selesai.” kata Raka dengan santai. “Tapi apa dia mau nerima aku yang item jelek gini?” tanya Dhanang dengan nada pesimis. “Sudahlah, kamu coba dulu aja, kan kita ga tahu hasilnya kalau belum dicoba.” Kata Raka kepada temannya yang pesimis itu. Setelah itu, Dhanang menarik sebuah kesimpulan, kalau dia harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan cinta Karina, dan bukan hanya duduk terdiam dan mengharap mukjizat besar akan datang kepadanya, sungguh kecil kemungkinannya.
Malamnya, ia terus berfikir. Berfikir dan berfikir, ia tak pernah berhenti lakukan itu. Tak lain adalah Karina, seorang perempuan yang mampu membuatnya jatuh hati. Semalaman ia tak bisa tidur karena wajah cantik dari Karina selalu hadir dan membuat Dhanang tak bisa melupakan Karina. Jam menunjukkan pukul 00.00, saatnya tidur.
Besoknya, ia dengan semangat pergi ke sekolah. Ini adalah sebuah perubahan besar yang terjadi pada Dhanang, karena sebelumnya ia tak pernah bersemangat pergi ke sekolah. Di sekolah, dia mencoba berkata pada Raka, apa yang ia rasakan pada tadi malam. Dan Raka hanya tersenyum mendengar cerita kawannya tersebut. Dia menyarankan, untuk mendekati teman karib Karina, untuk mendapatkan nomor telepon ataupun pin BBM Karina jika Karina mempunyai Blackberry.
Di malam kedua setelah Dhanang merasakan cinta pertamanya, Dhanang mencoba melakukan apa yg Raka sarankan. Mencoba menghubungi Rara, teman karib Karina. Ia mendapatkan pin Blackberry Rara dari Raka, karena Raka  dan Rara masih satu saudara, dan Rara adalah saudara kembar dari Raka. Dengan semangat dia mulai mengirimkan chat pertamanya, yang hanya berisikan “hai”. Setelah memperkenalkan diri kepada Rara, Rara pun menanyakan ada hal kepentingan apa hingga dia mengontak Rara. Dhanang pun bercerita tentang apa yang ia rasakan selama ini. “Oh begitu, kamu serius jatuh cinta sama Karina, Nang?” tanya Rara. “Iyalah, kalau aku nggak serius kenapa aku sampe kontak kamu? Aku hanya ingin menanyakan nomor telepon atau pin BBM nya, dan juga hal-hal internalnya, seperti hobi atau kesukaannya.” Jawab Dhanang dengan tegas. Lalu Rara memberikan pin BBM dari Karina, dan memberikan kriteria lelaki idaman Karina. Namun, ia terhenyak saat mendengarkan kriteria lelaki idaman Karina menurut Rara, tepatnya pada salah satu kriteria, berparas menarik. Dhanang pun mulai berfikiran negatif. “Mungkinkah rupa buruk sepertiku ini dapat meluluhkan hati Karina?” tanya Dhanang kepada Rara. “Itu masih pemikiranku, mungkin saja pemikiran Karina berbeda dari pemikiranku. Berdoalah saja dan jangan menyerah ya Nang!” Jawab Rara menyemangati Dhanang. Dengan perasaan tak menentu, Dhanang mencoba untuk meng-invite pin BBM Karina, dan tidak lama kemudian telah ter-confirm oleh Karina. Dhanang pun mencoba untuk mengawali percakapannya dengan Karina dengan pembukaan seperti biasa, dengan kata “hai”. Tak sampai 10 menit kemudian, Karina pun menjawab sapaan Dhanang, dengan “hai juga”. Namun anak manis ini tidak mengerti siapakah gerangan orang yang mengajak dia chat pada hari itu. “Ini siapa ya?” tanya Karina. “Oh iya, aku Dhanang, salam kenal, kita dari satu sekolahan kok.” Jawab Dhanang sambil berkeringat dingin. “Oh Dhanang yang anak olimpiade itu kan? Oalah salam kenal juga, Nang. Aku Karina.” Jawab Karina. Betapa senang hati Dhanang mendapat respon sebegitu baiknya dari Karina. Semenjak itu, ia selalu mengajak chat Karina, untuk sekedar bercakap-cakap ringan atau sampai curhat. Ya, setidaknya Dhanang sudah tidak menjadi seorang stranger di kehidupan Karina. Karena dari cerita Rara, Karina sangat senang mempunyai teman sebaik dan sepeduli Dhanang. Setidaknya di langkah awal ini Dhanang telah berhasil menjadi teman lelaki terbaik Karina yang selalu ada di sisi Karina dalam suka maupun duka.
4 bulan pun berlalu, kini telah memasuki musim penghujan. Tak ada perubahan yang signifikan dari hubungan Dhanang dengan wanita pujaannya, Karina. Ia masih harus berfikir 7 hari 7 malam untuk menguatkan tekadnya untuk mengungkapkan perasaan sebenarnya kepada Karina. Namun, sebagai lelaki yang tak mempunyai paras yang tampan, Dhanang pun dihinggapi oleh beribu rasa khawatir, jikalau ia akan ditolak mentah mentah oleh Karina, dan tak bisa lagi menjadi teman wanita pujaannya tersebut, dan kembali menjadi seorang stranger  bagi Karina. Ia pun meminta saran kepada Raka, sahabat karibnya yang paling setia. Ia coba mengeluarkan apa yang ia rasakan saat ini. Sebagai teman yang baik, Raka pun menjawab pertanyaan temannya yang sedang limbung tak karuan itu. “Bro, kalau gak kamu utarain perasaanmu yang sebenernya, gimana dia bisa tau? Bagaimanapun dia tetap orang biasa, bukan Uya Kuya yang bisa hipnotis orang trus baca pikiran orang. Sekarang atau tidak selamanya, Bro.” Jawab raka. “Tapi kalau aku ditolak?” tanya Dhanang kepada Raka. “Ya itu kan namanya belum jodoh, Nang. Tenang aja, jodoh uda ada yang atur kok, jadi kalo kamu brusaha, dan berdo’a juga tentunya, kamu pasti bisa kok dapetin Karina.” Jawab Raka. “Tapi kan tampangku kayak begini.” Kata Dhanang dengan raut muka sedih. “Perempuan gak liat dari luar aja, itu mah cuma nomer ke berapa gitu. Yang paling penting dalam diri kamu, Nang. Cinta dan kasih sayang yang tulus adalah segalanya. Kamu baik kok anaknya, jujur deh. Aku yakin kamu bisa dapetin hatinya Karina!” kata Raka dengan menyemangati Dhanang. “Okelah kalau begitu, akan ku coba, Rak.” Jawab Dhanang.
Malamnya, ia pergi menuju Blackberry-nya, dan langsung mengontak Rara, dan memintakan tolong untuk menanyakan apakah Karina mempunyai rasa kepada Dhanang. Dan Rara pun dengan senang hati melakukannya. “Semoga besok jawabannya dapat membuatku senang, amin.” Do’a Dhanang.
Malam besoknya, Rara langsung mengakatan sesuatu hal yang dapat membuat hati Dhanang berbunga bunga, yaitu jawaban dari Karina. “Bagaimana, Ra jawabannya?” tanya Dhanang dengan penasaran. “Dia suka kamu 30%!!” Jawab Rara dengan semangat. “Serius kamu Ra?” Tanya Dhanang dengan tidak percaya. “Serius Nang, dia ngomong sendiri sambil tersipu malu gitu ngomongnya ke aku.” Jawab Rara. “Berarti aku masih mungkin dong dapetin hatinya Karina?” Tanya Dhanang. “Masih lah, kan kamu uda punya modal.” Jawab Rara. Semenjak itu, suasana hati Dhanang menjadi berbunga-bunga dan menjadi anak yang ceria juga periang. Setiap harinya selalu diisi dengan ke-optimisan yang membumbung tinggi.
Di hari yang telah ia tentukan, Dhanang pun memutuskan untuk mengutarakan prasaannya kepada Karina. Setelah mengambil blackberry-nya, ia langsung menelpon Karina, dan mengutarakan prasaannya kepada Karina. Betapa kagetnya Karina, orang yang sebelumnya hanya stranger di hidupnya ternyata menyukai dirinya dan menembak Karina. Dengan mantap Karina menjawab, “Ya nang, aku mau kok.” Betapa senang hati Dhanang cinta pertamanya langsung diterima, dan tidak menjadi cinta bertepuk sebelah tangan. Semenjak itu, mereka berdua menjadi pasangan yang tak terpisahkan yang saling mencintai satu sama lain apa adanya.
Namun pada tahun ke-3 hubungannya dengan Karina, Dhanang jatuh sakit. Karena sangking parahnya, ia pun dibawa untuk menjalani rawat inap di Rumah Sakit. Setelah didiagnosa, Dhanang divonis dokter menderita penyakit Kanker Otak, dan hidupnya pun tak lama lagi akan habis. Sedih, adalah perasaan yang terpancar dari mukanya saat pertama kali mendengar vonis dokter tersebut. Tapi, ia berusaha tegar dengan takdir yang ia dapatkan. Ia berusaha tegar jalani sisa-sisa hidupnya. Dan betapa beruntungnya Dhanang, di sampingnya masih ada Karina, teman perempuan yang paling ia cinta, yang telah bersamanya 3 tahun terakhir ini. Karina selalu ada disaat Dhanang membutuhkannya, selalu menemaninya, menyuapinya, dan juga menjaganya. Karina sangat mencintai Dhanang, karena baginya, tiada lelaki lain yang dapat sebaik Dhanang. Bagi Karina, Dhanang-lah lelaki yang bisa membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Ia dengan semangat menjaga, merawat, dan juga menyemangati Dhanang karena yang Karina ingin hanyalah 1, yaitu mereka dapat hidup bersama. Di lain sisi, melihat ketulusan cinta Karina, Dhanang pun tergerak untuk berusaha sembuh dari penyakitnya tersebut.
Tapi, Allah berkehendak lain. Makin lama penyakit yang diderita Dhanang pun semakin parah, dan mengganas. Satu persatu rambutnya mulai rontok, dan badannya pun mengurus, hingga hanya tertinggal tulang dan kulit saja. Walau begitu, Karina tak pernah pergi meninggalkan Dhanang. Orang tua Dhanang pun merasa iba dengan keadaan anak mereka, begitu pula dengan Karina. Karena, bagaimana tidak? Dua insan manusia yang saling mencintai, dan baru saja menjalin cinta harus diberi cobaan seberat ini. Namun Karina tidak henti hentinya berdo’a kepada Allah agar dapat memberi kesembuhan bagi Dhanang, lelaki yang paling ia sayangi dan cintai.
Di pagi yang gelap, awan hitam berkumpul diatas langit kota, keadaan Dhanang makin mengkhawatirkan. Keluarga, kerabat, teman-teman karibnya, seperti Raka, Rara, dan tentu saja kekasihnya Karina berada di dekat Dhanang. Karina terus memberikan dorongan kepada Dhanang, untuk tetap kuat dan terus jalani hidupnya. Dan seperti yang diduga, Dhanang jatuh koma. Matanya terpejam dan tak bisa lakukan apapun. Bukan sedih mainnya Karina. Ia menangis terisak-isak di luar ruang ICU, dimana Dhanang dirawat. Setelah beberapa hari kemudian, orang tuanya dan Karina pun diberi izin untuk masuk menemui Dhanang yang sedang dalam keadaan koma. Dengan penuh harapan, Karina berdoa sembari beberapa kali menitihkan air mata saat memegang tangan Dhanang. Tanpa diduga, Dhanang selamat dari jurang kritisnya tersebut. Jari jemari Dhanang yang kecil itu mulai bergerak kecil, lalu ia berusaha membuka matanya dan mendapati kekasihnya yang paling ia sayangi sedang berlinang air mata. Karina senang bukan main saat melihat Dhanang bangun kembali. Ia merasa mendapat mukjizat terbesarnya. Karina langsung menyium kening kekasihnya tersebut. Dan besoknya, Dhanang mulai membaik. Dia mempunyai keinginan untuk pergi ke suatu tempat yang indah, dimana disana dia bisa berduaan bersama Karina. Tanpa banyak kata, orang tua pun meminta ijin kepada dokter untuk membawa Dhanang keluar sebentar untuk memenuhi keinginan Dhanang ini, yang mungkin menjadi keiniginan terakhirnya. Bersama Karina, ia duduk di kursi belakang mobil sedan ayah Dhanang. Pantai, ialah destinasi dari perjalanan mobil sedan tersebut. Di pantai, ia bermain main, mungkin untuk terakhir kalinya bersama Karina, juga disana ada Raka dan Rara yang sudah menunggu di sana. Mereka semua bermain dengan gembira, mereka meluapkan kegembiraan, semua kegembiraan yang mungkin mereka takkan dapatkan kelak. Karina pun memberikan kado terspesial bagi Dhanang, yaitu sebuah pelukan hangat dan kecupan manis di kening Dhanang, yang mungkin takkan Dhanang dapatkan di surga kelak saat ia telah dipanggil oleh Allah. Setelah semua itu, mereka kembali ke rumah sakit untuk membawa Dhanang kembali ke rumah sakit.
Seminggu kemudian, dibawah langit kelabu, lebih gelap dari saat Dhanang jatuh koma, disertai dengan derai hujan dan kilat-kilat yang bergantian menyambar satu sama lain, Dhanang kembali berjuang untuk lepas dari jurang kritisnya itu. Namun, Allah berkehendak lain, Dhanang dipanggil untuk menghadap sang pencipta di surga-Nya. Karina yang ada di tempat itu yang menyaksikkan detik-detik kembalinya Dhanang pun tak percaya. Seorang lelaki terhebat dan terbaik dalam hidupnya, yang baru saja hadir dalam hidupnya, kini telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Tangisan Karina pun memecah keheningan rumah sakit. Derai air mata tak henti-hentinya keluar dari kelopak mata perempuan cantik tersebut. Ia masih tak percaya seorang lelaki yang telah merubah hidupnya kini telah pergi, menuju peraduan selanjutnya di alam akhirat. Kini, tiada anak “buruk rupa” itu. Kini tiada anak jenius itu. Semua menangisi kepergiannya, termasuk Karina yang sangat sedih dengan kepergian kekasihnya yang sangat ia sayangi.
Beberapa hari setelah meninggalnya Dhanang, Karina masih dirundung kesedihan yang mendalam. Walau telah banyak lelaki yang telah mendekatinya, ia tetap tidak bergeming sedikitpun kepada semua lelaki tersebut. Tanpa disangka, orang tua Dhanang memberikan sebuah kardus, titipan dari Dhanang semasa hidupnya. Dhanang menitipkan semua barangnya kepada orang tuanya untuk diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, namun ada kardus khusus yang telah Dhanang siapkan untuk diberikan kepada kekasihnya, Karina. Didalamnya banyak sekali barang barang yang Dhanang sukai dan Dhanang sayangi, seperti laptopnya, foto-foto Karina dan Dhanang berduaan, hingga buku harian Dhanang. Didalamnya terselip sebuah catatan kecil yang khusus ditujukan kepada Karina, wanita yang paling ia sayangi.
“Sayangku, 3 tahun sudah kita lewati bersama. Suka maupun duka, kita pernah lalui semua itu. Tapi apakah kamu tahu? Makin hari kamu membuat diri ini makin sayang padamu. Terima kasih banyak engkau telah sudi menerima cinta dan kasih sayangku yang tulus dan mungkin tak seberapa berharga bagimu. Karena ku tahu, aku takkan bisa berikan apapun kepadamu, karena wajah tampan pun aku tak mempunyai itu. Aku pun juga bukan orang kaya, seperti mereka. Namun di luar semua itu, aku ingin kau tahu, jikalau aku sangatlah menyayangi dan mencintai dirimu. Terima kasih telah menjadi bidadari di kehidupanku yang sempit dan pendek ini. Maafkan aku, aku harus pergi mendahului dirimu. Aku yakin diluar masih banyak lelaki yang lebih pantas dan lebih baik untuk menjadi pendamping hidupmu. Ku harap, sampai kapan pun engkau takkan lupakan diriku. Ku berikan barang-barang yang bagiku sangat berharga kepadamu, untuk mengingatkanmu padaku. Meski aku jauh di sana, aku takkan pernah lupakan kamu, Kar. Karena mungkin dari sana, aku akan tetap bisa melihat dirimu di bawah sini, walau kau takkan bisa melihatku di atas sana. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu untuk pertemukan ku dengannya di surga-Mu. Sekali lagi kuucapkan padamu Kar, terima kasih atas semua yang telah engkau berikan kepadaku dan aku mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau aku memang memiliki dosa yang terlampau besar adanya, dan kuharap engkau sudi tuk memaafkannya"
Sekian, Dhanang”
Secara tak sadar, air mata pun mengairi kelopak matanya dan pipinya. Sesaat setelah membaca surat kecil tersebut. Surat kecil yang bermakna besar bagi Karina. Sebuah bukti cinta tulus dan putih dari seorang Dhanang, anak buruk rupa yang memiliki cerita mirip dongeng “Beauty and The Beast”. Walau banyak terpaan cobaan yang ia hadapi, ia tetap tegar. Ia percaya, semua pasti akan baik baik saja pada akhirnya. Jika tidak, itu bukanlah akhir dari sebuah cerita, dan IMPOSSIBLE IS NOTHING.

Sabtu, 19 November 2011

SAMEDI, 12 NOVEMBRE 2011, Unbelievable Moment :D

Pas gatau hari apa, sumpah aku lupa, aku dipanggil ustadah anita, kok kayak punya firasat? -_- ternyata eh bener kan, ikut lomba lagi ._. yaudah ngomong aja 'bisa kok ustadah', padahal ada tes speaking di EF -_-
Trus Jum'at, suruh latihan, kukira dikasih teksnya, eh ternyata, suruh buat sendiri ._. aku gabisa padahal, yaudah aku paksa aja buat asal-asalan ._. eh ternyata, kok katanya bagus? ._. yaudah deh, aku terusin latihan pidatonya ._.
minggu depannya, adalah latihan trakhir._. dan dapat ditebak, aku ketinggalan smua pelajaran jam abis sholat jum'at ampe ashar ._. yauda deh demi kemenangan reek B-) berjuaang!
sabtu bsoknya, 12-11-11, kelewat tanggal bagus sih, tapi lak lumayan se -_- aku disuruh dandan ala pejuang ._. yauda aku asal aja, pake jas ala bung hatta -_- tapi mana ada bung hatta baawahnya pake jeans pensil trus macbeth Tom Delonge? -_-



coba bayangkan kalo speech pake kedua barang di samping samping ini -_-

 <========>













yaudah diceramahin ama bapakku tercinta di mobil, katanya salah kostum -_- eh di sekolah, ternyata ada yg lebih kocak =)) pake baju adat =)) yauda trus berangkat deh ke SMKN 6 buat berjuang, banzai!! sampai disana, lah kok standing gitu? mana mimbarnya? ._. yaudah deh latihan terus aja, dan nomerku 17, lumayan jeh nomer bagus B-) yaudah pas dipanggil namaku, dengan gmana gitu naik deh ke stage :D trus aku pidato, eh ternyata ada yang lupa, yauda improvisasi pol polan aja dah ._. abis tampil, ternyata direkam ._. jejejeng ._. hamyaam, pas aku liat, sumpah juelek banget -_- aku mulai pesimis, trus dah aku mulai minta do'a ke temen temen, termasuk pacar tercinta, ecieee :))
waktu dhuhur mulai datang, aku pun sholat. ' Ya Allah, menangkan aku ya Allah' doaku ke Allah yang paling great se alam semesta :) dan jam 2, pengunguman, dan sampai harapan 1, kok namaku ga disebut, yaudah mulai dah namanya pesimis ._.
sampai juara 2, nama blom kesebut juga, yauda pasrah aja dah, ga juara gapapa -_- dan terdengar suara 'and the champion is from AL-HIKMAH JUNIOR HIGH SCHOOL!' mulai dah ustadah anita sebagai pembimbing girang banget, 'IRFAN ANDI WICAKSONO' Wow! amazing brooo, sumpah ga nyangka ._. lumayan lah 500.000 broo B-) alangkah indahnya kalo uangnya utuh pas di tabung, eh diambil 100 buat duplikat piala -_-
gitulah ceritaku buat bulan ini :) ada yg nanya cerita 10 november? gamau, aku jadi unyil pas itu soalnya -_- gamau cerita ane bos kalo tentang itu -_-
sekian dari ane ya brooo

IAW :D